Senin, 13 Juni 2011

STRATEGI DAN METODE PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL

STRATEGI DAN METODE PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL
A.    Hakekat Strategi dan Metode Pembelajaran
Strategi dan metode merupakan suatu cara / tindakan yang dirancang tutor, sehingga menimbulkan kegiatan belajar bagi para warga belajar dan juga warga belajar dapat mencerna bahan pembelajaran yang disampaikan tutor dengan mudah dan baik.
Adapun kriteria yang perlu diperhatikan dalam menetapkan strategi dan metode pembelajaran yaitu :
1.    Pemilihan dan penetapan strategi dan metode harus berorientasi pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai,
2.    Memperhatikan materi yang akan disampaikan kepada warga belajar dengan berbagai karakteristiknya sebagai orang dewasa,
3.    Media belajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran,
4.    Tingkat kemampuan dan kemudahan warga belajar dalam menyerap dan memahami materi pembelajaran,
5.    Memperhatikan efektivitas, efisiensi, daya tarik media, dan iklim / suasana pembelajaran dikelompok belajar.

B.    Jenis – jenis Strategi dan Metode PembelajaranKeaksaraan
1.    Participatory Rural Appraisal (PRA)
PRA merupakan suatu strategi dan metode pengkajian pedesaan secara partisipatif yang memungkinkan masyarakat desa saling berbagi, menambah, dan menganalisis pengetahuan tentang kondisi kehidupannya dalam rangka untuk membuat perencanaan dan tindakan (Chambers ; 1992 ; 5). Metode ini merupakan sarana efektif untuk memberdayakan warga masyarakat melalui pengkajian terhadap masalah – masalah yang muncul di pedesaan.
Prinsip – prinsip yang harus digunakan tutor dalam penerapan PRA adalah
1)    Belajar dari masyarakat, bukan masyarakat yang belajar dari tutor,
2)    Tutor bertindak sebagai fasilitator, dan masyarakat sebagai pelaku kegiatan,
3)    Saling belajar dan saling berbagi pengalaman diantara tutor dan warga belajar dengan prinsip kesamaan, kesetaraan, dan kebersamaan di dalamnya,
4)    Adanya keterlibatan semua kelompok masyarakat, apapun bentuk keterlibatannya,
5)    Santai dan bersifat informal, tidak ada struktur bawahan – atasan atau saling memerintah,
6)    Menghargai perbedaan diantara sesama anggota dalam kelompok mayarakat,
7)    Adanya triangulasi penggunaan variasi dan kombinasi berbagai teknik,
8)    Mengoptimalkan hasil dan selalu belajar dari kesalahan serta berorientasi praktis,
9)    Penggunanaan PRA akan lebih berhasil apabila ada keberlanjutan program dan adanya selang waktu untuk mengkaji ulang permasalahan – permasalahan yang muncul.
2.    Reflect
Reflect merupakan singkatan dari Regenerated Frerian Literacy Through Empowering Community Techniques (Pengembangan kembali teori keaksaraan Paulo Frerian melalui teknik pemberdayaan masyarakat). Metode Reflect memperlihatkan adanya proses penyatuan antara kegiatan keaksaraan dan pemberdayaan masyarakat.
Keuntungan dan manfaat penggunaan metode reflect dalam proses pembelajaran keaksaraaan fungsional yaitu :
1)    Berperan dalam upaya terjadinya proses pemberdayaan (empowering) melalui penyadaran (awareness) serta tindakan (action)untuk melakukan perubahan,
2)    Untuk menggali minat dan kebutuhan warga belajar, mengembangkan pandangan berdasarkan pengalamannya, menciptakan inovasi – inovasi baru dalam proses dan hasil pembelajarannya,
3)    Untuk membelajarkan seseorang dalam belajar menulis dan membaca, memperluas perkembangan kegiatan keaksaraan,
4)    Adanya peningkatan kemampuan warga belajar dalam menganalisis dan memecahkan masalah sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengemukakan ide – ide, dan adanya peningkatan partisipasi,
5)    Menghubungkan langsung dengan kegiatan masyarakat dimana mereka tinggal,
6)    Mengedepankan prinsip – prinssip pembelajaran orang dewasa, pengalaman, dan situasi yang dihadapi warga belajar dalam kehidupan sehari – hari.
3.    Problem Possing (Pemunculan Masalah)
Problem Possing merupakan suatu metode untuk memunculkan masalah baik individu maupun kelompok yang kurang disadari oleh pelakunya.
Ada dua hal yang sangat berkaitan dalam metode problem possing yaitu “Bagaimana memunculkan masalah” dan “Bagaimana membuat pertanyaan kunci”. “Problem possing” adalah suatu cara menggali dan memunculkan masalah yang yang bermanfaat secara detail, untuk mengidentifikasi dan menganalisis pemecahan masalah tersebut. Sedangkan “Pertanyaan kunci”adalah suatu cara menggunakan pertanyaan – pertanyaan penting untuk membuka pintu diskusi.
4.    Language Experience Approach (LEA)
Metode ini merupakan inovasi dalam proses pembelajaran keaksaraan fungsional yang dapat memotivasi warga belajar membuat bahan belajar sesuai dengan materi yang ingin dipelajarinya.
Alasan penggunaan metode ini adalah untuk menghilangkan ketergantungan terhadap buku atau modul yang diterbitkan oleh pusat, dan meminimalisasi anggapan bahwa program baru akan dilaksanakan jika sudah disediakan buku / modulnya. Disamping itu efektivitas kegiatan belajar sangat tergantung pada kemampuan tutor daalam mengarahkaan, membimbing warga belajar di dalam kegiatan belajarnya.
5.    Structure – Analytic – Synthesis (SAS)
Metode SAS menekankan bahwa belajar membaca dan menulis dapat bermanfaat serta menarik minat warga belajar, apabila menggunakan berbagai informasi yang dekat dengan diri mereka. Ketertarikan itu akan bertaambah jika apa yang dipelajarinya memang diperlukan oleh warga belajar dan fungsional bagi kehidupannya. Dalam pelaksanaan pembelajaran, metode SAS akan sangat tepat jika diterapkan pada pembelajaran membaca dan menulis.
6.    Kata Kunci (Key Words)
Dalam proses pembelajarannya, digunakan pula tema – tema penggerak dan kata – kata kunci yang diangkat dari kehidupan masyarakat dan mengandung makna langsung bagi kehidupan warga belajar. Kata – kata kunci tersebut, dipilih dari berbagai alternatif kata yang diajukan oleh para warga belajar, kemudian kata – kata yang dipilih digunakan untuk memancing pikiran kritis warga belajar, sejak awal kegiatan sampai dengan akhir kegiatan pembelajaran.
Keunggulan metode “key words” adalah
1)    Metode ini didasarkan pada penggunaan topik – topik yang bermakna bagi kehidupan masyarakat,
2)    Warga belajar diberi kesempatan untuk memberi masukan terhadap proses dan materi belajar,
3)    Dimungkinkan adanya variasi kegiatan, bukan sekedar belajar membaca dan menulis,
4)    Warga belajar dapat melihat dan merefleksikan, serta mendiskusikan berbagai masalah kehidupan yang mereka alami.
Sedangkan kelemahan metode ini adalah perlunya kehadiran tutor yang mampu menggerakkan diskusi, bersikap terbuka dan mau bersikap tidak menggurui.
7.    Suku Kata
Metode ini sangat efektif untuk membantu warga belajar buta aksara murni. Konsep utama metode ini adalah mempelajari suku kata yang berasal dari kata – kata tertentu yaang sering dihafalkan dan memiliki makna yang jelas, dengan prinsip mengulangi, menghafal dan melatih tentang semua huruf baik konsonan maupun vokal yang membentuk suku kata tersebut.
8.    Poster Abjad
Metode ini sangat efektif untuk membantu warga belajar buta aksara murni. Konsep utama dalam metode ini tidak sekedar mempelajari abjad dari a – z, tetapi dengan menggunaakan benda – benda nyata yang ditempelkansesuai huruf pertama nama benda tersebut.
9.    Transliterasi
Metode ini sangat efektif untuk membantu warga belajar buta aksara “latin”tetapi mereka sudah memiliki kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dengan menggunakan huruf “arab”. Konsep utama metode ini adalah menyamakan ucapan bunyi huruf / aksara arab dengan aksara latin.
Sebagai catatan penggunaan metode ini bahwa : 1) Metode ini biasanya digunakan pada komunitas muslim tradisional atau di lingkungan pondok pesantren,2) Metode ini hanya efektif digunakan dalam proses pembelajaran KF, apabila warga belajarnya sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan membaca Al-Quran paling tidak sudah mengenal huruf “Hija’iyah.

C.    Aplikasi dalam Pembelajaran
1)    Strategi dan Metode Pembelajaran Menulis
Langkah – langkah kegiatan menulis untuk warga belajar pemula meliputi empat tahap berikut :
a)    Menulis di udara
Mengingat warga belajar pemula jarang memiliki kesempatan memegang alat – alat tulis, maka mereka perlu dibelajarkan bagaimana menggunakan alat – alat tulis tersebut. Tutor meminta WB untuk menulis di udara, untuk melemaskan dan lebih memperkenalkan fungsi – fungsi alat – alat tulis sebagai mediamenuangkan ide/gagasan.
b)    Menulis tentang apa saja
Setelah warga belajar familier mengenal alat – alat tulis dan fungsinya, tutor meminta warga belajar menulis tentang apa saja yang menjadi kesukaannya. Hal ini bertujuan untuk merangsang WB, bahwa apa yang dipikirkan hanya dapat dikomunikasikan melalui lambang – lambang tertentu.
c)    Menulis konkrit
WB diminta menulis kata – kata nyata, dengan cara menyalin, meniru tulisan orang lain seperti nama diri, anggota keluarga, dsb. Pengalaman menunjukkan, warga belajar akan lebih cepat belajar menulis apabila mereka diminta menulis kata – kata sederhana dan bermakna.
d)    Menulis kata/kalimat/pesan pendek
Inti menulis adalah mengkomunikasikan ide/gagasan kepada orang lain. Oleh karena itu mereka diminta dan dilatih untuk menulis kata- kata/kalimat/pesan pendek yang bisa dimengerti orang lain.

2)    Strategi dan Metode Pembelajaran Membaca
Prinsip-prinsip dan langkah-langkah dalam membelajarkan warga belajar membaca yaitu:
a)    Cari materi-materi/informasi praktis atau sederhana yang sesuai dengan minat, kebutuhan, dan masalah yang dihadapi WB
b)    Tutor menyalin informasi diatas kedalam papan tulis
c)    Meminta WB untuk menyalin informasi tersebut ke buku catatan masing-masing
d)    Tutor membaca bahan bacaan tersebut dan WB menirukan secara bersama-sama dengan melihat ke papan tulis
e)    Meminta WB yang sudah sedikit mampu membaca untuk kedepan dan membaca bahan bacaan tersebut, sementara yang lainnya mengikuti.
f)    Latih mereka berulang – ulang
g)    Meminta WB membaca secara bersamaan dengan melihathasil tulisannya masing – masing
h)    Latih mereka membaca hasil tulisan masing – masing secara bergantian
i)    Jangan terlalu khawatir jika WB tidak dapat membaca dengan sempurna
j)    Bantulah WB agar percaya diri dan merasa senang bahwa mereka dapat membaca dan beri semangat pada WB untuk membantu yang lainnya.
3)    Strategi dan Metode Pembelajaran Berhitung
Berdasarkan pengalaman, untuk pembelajaran berhitung biasanya warga belajar sudah memiliki kemampuan dalam berhitung nilai nominal uang, jumlah ternak yang dimiliki, anak dan sebagainya.
Untuk bisa membelajarkan warga belajar berhitung, tutor perlu mengamati aktivitas berhitung masyarakat, selain itu tutor perlu mengamati cara belajar ketrampilan berhitung yang digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari – hari.
Prinsip – prinsip yang harus diingat oleh tutor ketika membelajarkan warga belajar berhitung adalah :
a)    WB biasanya sudah mempunyai ketrampilan berhitung yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari – hari seperti : jumlah anak, jumlah ternak, dsb.
b)    Ajarkan ketrampilan berhitung yang dibutuhkan WB, misal berbandingan :
Ukuran modern  Tradisional
Meter           Batas hektar
Liter           Kilogram
c)    Gunakan dan manfaatkan alat – alat yang berasal dari kehidupan WB dalam kehidupan sehari – hari
d)    Ajarkan ketrampilan berhitung bersama-sam dengan kegiatan fungsional
e)    Gunakan selalu alat-alat yang dapat dikerjakan sendiri oleh WB seperti : Lidi, batu, telur, daun, dsb
f)    Untuk meningkatkan kemampuan berhitung warga belajar program KF, tutor perlu :
•    Mengetahui kebutuhan berhitung warga belajar
•    Melaksanakan survey matematika sesuai dengan kebutuhan belajar WB
•    Mengumpulkan dan menggunakan alat lokal sebagai alat bantu berhitung
•    Menerapkan keguanaan berhitung dalam kehidupan sehari – hari WB.


















PANGKALAN BELAJAR TKI PERBATASAN


PANGKALAN BELAJAR TKI PERBATASAN

Perjalanan Rintisan Pangkalan Belajar di Kabupaten Nunukan

Kabupaten Nunukan termasuk salah satu daerah pintu keluar masuk dari Indonesia ke Malaysia serta membanjirnya para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dari negeri Jiran. Meski letaknya jauh dari Ibukota Propinsi Kalimantan Timur (Samarinda) namun Kabupaten Nunukan dengan luas wilayah 14.493 km3 yang tersebar dalam 7 kecamatan (Krayan, Krayan Selatan, Lumbis, Nunukan, Sebatik, Sebuku, dan Sembakung) masih memerlukan layanan pendidikan. Karena keterbatasan jangkauan layanan, maka lembaga atau instansi yang memberikan layanan pendidikan non formal khusunya pendidikan kesetaraan sangat dibutuhkan. Dimulai dari daerah perbatasan antara Indonesia dengan Sabah-Malaysia, yaitu di Kabupaten Nunukan Propinsi Kalimantan Timur. Berbekal bantuan dana dari Direktorat Pendidikan Kesetaraan serta kemampuan dari Tim Serat Bangsa, kemudian mulailah dihubungkan dan diberdayakan 2 pangkalan belajar yang sudah ada di daerah perbatasan, yaitu Pangkalan Belajar Kesusteran Gabriel Manek dan Pangkalan Belajar Hidayatullah Nunukan serta dikosentrasikan di Lumbung Belajar Binusan, Kabupaten Nunukan.

Kegiatan di Kabupaten Nunukan ini dibagi bagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap pertama menyelesaikan program jangka pendek, antara lain :

1.      Merekrut dan membimbing 27 tutor yang siap melayani Pendidikan Kesetaraan TKI Perbatasan.

2.      Merekrut Peserta didik sebanyak 394 orang yang terdiri dari : 254 orang di Sabah-Malaysia dan 140 orang di Nunukan Indonesia.

3.      Membuat database warga belajar: untuk yang beragama Islam di Pangkalan Belajar Hidayatullah Nunukan dan untuk yang beragama kristen di pangkalan belajar Gabriel Manek Nunukan.

4.      Mendirikan 2 pangkalan belajar baru di wilayah perbatasan, yaitu Pangkalan Belajar Ibu Anfrida. SSpS dan Pangkalan belajar Hidayatullah Sebatik

5.      Melayani Kelas Jauh di Camp-camp Perkebunan Kelapa Sawit di Tawau Sabah Malaysia

6.      Menjalin Kerjasama dengan Lembaga Mitra dalam upaya kesinambungan Pendidikan Kesetaraan yang sudah dibentuk/ didirikan.



7.      Mendirikan Forum Tutor dan membuat SK Forum Tutor untuk komunikasi antar Tutor dalam rangka peningkatan layanan maupun akses pendidikan Kesetaraan bagi TKI Perbatasan.

8.      Mendirikan Perpustakaan/ Taman Bacaan di pangkalan belajar rintisan TKI perbatasan.

9.      Melengkapi prasarana belajar di setiap pangkalan.

10.  Membuat MOU atau Akad Kerjasama antara Yayasan Serat Bangsa dengan pangkalan-pangkalan belajar rintisan.


Kemudian melaksanakan program jangka menengah, antara lain:

·         Melaksanakan tes penempatan dan Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan di lokasi Model Percontohan camp-camp Perkebunan Sawit Sabah Malaysia,

·         Bekerjasama dengan : Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sabah Malaysia, Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Lembaga dalam negeri dan luar negeri.

Melaksanakan program jangka panjang, antara lain:

·         Perluasan akses dan pelaksanaan Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan diseluruh camp-camp perkebunan sawit wilayah Sabah Malaysia dan kilang sawmill, bekerjasama dengan : Direktorat Pendidikan Kesetaraan Ditjen PNFI Depdiknas, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sabah Malaysia, Atase Pendidikan RI-Malaysia, Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Timur, Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, SIK (Sekolah Indonesia Kuala Lumpur), Madrasah Al Musthofawiyah Selangor Malaysia, Kesusteran Gabriel Manek Nunukan, Pondok Pesantren Hidayatullah Nunukan, Kesusteran Ibu Anfrida SSpS Sebatik, Pondok Pesantren Hidayatullah Sebatik, LSM Kemanusiaan Pelangi Nusantara, Humana Fondation Denmark, Syarikat Ladang Sawit Bongalio Development Sdn Bhd wilayah Sabah Malaysia, Syarikat Kilang Sanbumi Sawmill Kalabakan-Sabah Malaysia, serta Felda Plantation Lahadatu-Sabah Malaysia


Untuk melayani pendidikan di titik-titik layanan yang menjadi target sasaran di perbatasan khususnya untuk para TKI dan keluarganya serta membuka kelas jauh di Sabah, tentunya dimulai dengan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, baik untuk penentuan lokasi layanannya, tempat pembelajarannya, perizinan, berapa tutor yang akan diterjunkan, dan lain sebagainya. Kemudian identifikasi, baik peserta didik, lokasi kegiatan pembelajaran, dll. Selanjutnya adalah sosialisasi dan rekrutmen warga belajar, mengenai berapa jumlah warga belajar, penentuan jadwal belajar berdasarkan kesepakatan bersama, serta tes penempatan bagi calon peserta didik. Tes ini gunakan untuk mengelompokkan peserta didik yang jumlahnya sangat banyak. Untuk 1 titik layanan saja jumlahnya ± 139 murid, maka setelah tes penempatan tersebut kemudian dibagi lagi berdasarkan kelompok umur dan keminatan belajar yang terbagi dalam 3 spektrum, lalu kami tentukan model pembelajaran yang sesuai untuk masing-masing kelompok. Kami mengembangkan model pembelajaran tatap muka, tutorial dan mandiri sehingga di satu titik layanan dalam satu hari bisa melayani ratusan peserta didik Paket A hanya dengan 2 orang Tutor.


Jadwal pembelajaran dari Senin sampai dengan Sabtu dengan waktu belajar terbagi dalam tiga sesi untuk di wilayah ladang sawit, yaitu pagi, siang, dan sore, sedangkan di wilayah kilang sawmill terbagi dalam dua sesi yaitu sore dan malam. Ilmu yang diberikan tidak hanya dari segi kognitif saja tetapi juga vokasional, seperti keterampilan otomotif berupa service ringan sepeda motor dan tambal ban, keterampilan tata boga yakni membuat tempe dan keripik tempe serta aneka roti, keterampilan tata busana yaitu membuat seragam sekolah dan membuat aneka souvenir, keterampilan tempa besi yakni membuat pacul dan perkakas pertanian, keterampilan sablon, serta keterampilan instalasi listrik rumah sederhana. Keterampilan tersebut diberikan setiap 3 bulan sekali selama 1 minggu dari pukul 08.00-17.00 melalui metode “Dril Skill”.


Membangun Kelas Jauh


Kelas jauh di wilayah Sabah Malaysia diberi nama Learning Centre Mutiara Borneo 1 yang berlokasi di kilang sanbumi sawmill wilayah Kalabakan serta Learning Centre Mutiara Borneo 2 yang berlokasi di Ladang Sawit Tun Fuad/ Tun Razak wilayah Kunak. Kedua kelas jauh ini sengaja dibuka agar jumlah warga belajar yang bisa direkrut dan layani pendidikannya semakin banyak. Biasanya di empat pangkalan belajar yang telah dirintis yang ada di wilayah Nunukan dan Sebatik Indonesia hanya bisa menampung warga belajar dari Malaysia yaitu TKI ataupun anak-anak TKI dengan jumlah terbatas, karena anak-anak tersebut terkendala masalah dokumen dan biaya untuk sampai ke tanah air sehingga jumlah warga belajar yang bisa direkrutpun terbatas. Oleh karena itu dengan dibukanya kelas jauh di wilayah Sabah Malaysia maka jumlah warga belajar yang bisa terlayani semakin banyak, sesuai dengan motto kesetaraan “menjangkau yang tak terlayani”.

Dalam membangun kelas jauh di negara orang tentunya juga harus membangun silaturahmi yang baik dengan masyarakat tempatan dimana berpijak. Dan juga berkoordinasi dan membangun kemitraan dengan lembaga-lembaga yang ada di sana, baik dari dalam maupun luar Malaysia.

Untuk manajemen pengendalian unit-unit layanan yang tersebar baik di Kabupaten Nunukan maupun di Sabah Malaysia, pemilik menggunakan pola Sistem Informasi Manajemen yang menggunakan peralatan elektronik seperti telepon genggam (Hp) dan komputer (internet menggunakan fasilitas mitra) untuk berkomunikasi langsung antara unit-unit layanan yang dilakukan terjadwal setiap hari Rabu satu mingggu sekali dan lebih dari sekali apabila ada informasi penting yang perlu disosialisasikan. Selain itu dilakukan kunjungan terjadwal untuk melakukan monitoring dan evaluasi paling tidak setiap tiga sampai dengan empat bulan sekali dalam bentuk Sidak. Alur informasi kegiatan layanan pendidikan kesetaraan dari pusat di Kota Bekasi hingga unit-unit penyelenggaraan di wilayah terpencil.











Minggu, 05 Juni 2011

GRAND DESAIN PENDIDIKAN KESETARAAN


GRAND DESAIN PENDIDIKAN KESETARAAN
A.    Konsep Layanan Melalui Jalur PNF
Konsep layanan PNFI meliputi layanan Pendidikan keaksaraan, Pendidikan anak usia dini, Pendidikan kesetaraan, Pendidikan berkelanjutan dengan berbasis pendidikan kecakapan hidup dengan memperhatikan kesetaraan gender. Upaya mewujudkan layanan tersebut dilakukan dengan meningkatkan / penguatan kelembagaan UPT/UPTD/satuan PNFI lainnya melalui peningkatan mutu tenaga pamong, pengembangan model, standarisasi dan akreditasi serta penyediaan fasilitas untuk kegiatan proses pembelajaran sesuai kebutuhan masyarakat, meningkatkan kerjasama dalam dan luar negeri dalam rangka perluasan, peningkatan mutu dan relevansi serta daya saing program PNFI.
B.     Konsep pelayanan Pendidikan Kesetaraan
Pelaksanaan pendidikan kesetaraan yang selama ini berjalan perlu dilakukan pengembangan sejalan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia. Hal ini dapat dilakukan melalui spektrum pendidikan kesetaraan.
Spektrum pendidikan kesetaraan adalah suatu program yang menggambarkan kegiatan pendidikan bermuatan akademik, vocational skills, dan terintegrasi keduanya yang didasarkan pada kebutuhan sasaran.
Ketiga spektrum tersebut meliputi :
1.      Kesetaraan Murni Akademik (KMA)
Diselenggarakan bagi mereka yang hanya membutuhkan kompetensi akademik dan memperoleh ijazah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Spektrum ini cocok untuk peserta didik usia sekolah dan dalam rangka penuntasan program wajar dikdas 9 tahun.
2.      Kesetaraan Integrasi Ketrampilan (KIK)
Diselenggarakan bagi mereka yang membutuhkan kompetensi akademik dan juga memerlukan kompetensi ketrampilan dan kepribadian untuk kehidupan sehari – hari dan atau memperoleh pekerjaan serta bekerja / berusaha mandiri. Dalam Spektrum kedua ini peserta didik dapat memperoleh ijazah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan bukti hasil belajar peserta didik adalah ijazah Paket B atau Paket C.
3.      Kesetaraan Murni Ketrampilan (KMK)
Diselenggarakan bagi mereka yang hanya membutuhkan kompetensi ketrampilan dan kepribadian untuk persiapan bekerja atau usaha mandiri. Bukti hasil belajar peserta didik adalah sertifikat kompetensi ketrampilan, Ijazah Paket B atau Paket C.
Dengan demikian pendidikan kesetaraan berfungsi untuk meningkatkan rata – rata lama belajar dan produktivitas warga negara sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan indeks pembangunan manusia indonesia (IPM).
Secara operasional Spektrum pertama diselenggarakan melalui pola transformasi pembelajaran akademik dengan pilihan sistem reguler, terbuka, dan akselerasi.
1.      Pembelajaran kelompok belajar reguler
Sistem pembelajaran yang menekankan pada kemampuan peserta didik melalui pertemuan secara langsung (tatap muka secara kontinyu)antara peserta didik dengan tutor baik secara perorangan maupun secara kelompok yang dilaksanakan secara intensif dalam rangka pencapaian standar kompetensi dan standar program paket C untuk mata pelajaran yang diujikan pada ujian nasional pendidikan kesetaraan.
Tujuan Pembelajaran Reguler :
a.       Mengurangi keragaman kecepatan belajar dari peserta didik agar mencapai suatu tingkat pencapaian kompetensi
b.      Meningkatkan kualifikasi akademik peserta didik
c.       Memberikan pelajaran secara reguler bagi mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan, Paket A 5 mata pelajaran, Paket B 6 mata pelajaran, dan Paket C 7 mata pelajaran.
2.      Pembelajaran kelompok belajar intensif
Sistem pembelajaran yang menekankan belajar secara tutorial dan menggunakan modul dalam pendekatan belajarnya.
3.      Pembelajaran kelompok belajar terbuka
Sistem pembelajaran yang menekankan belajar mandiri dan peserta didiknya bebas menentukan pilihan pembelajaran dalam mencapai kompetensinya.
Strategi pembelajaran pendidikan kesetaraan yang berbasis pada spektrum sebagai cara untuk mencapai kompetensi dasar dan standar kompetensi pendidikan dasar dan menengah mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap proses, hasil dan pengaruh kegiatan pembelajaran.
Strategi pembelajaran yaang berpusat pada peserta didik / warga belajar, strategi ini memberi kesempatan seluas – luasnya kepada peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Strategi ini menekankan bahwa peserta didik memegang peranan penting dalam keseluruhan pembelajaran dan pendidik / tutor sebagai fasilitator dan motivator dalam melakukan kegiatan pembelajaran.