Senin, 13 Juni 2011

STRATEGI DAN METODE PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL

STRATEGI DAN METODE PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL
A.    Hakekat Strategi dan Metode Pembelajaran
Strategi dan metode merupakan suatu cara / tindakan yang dirancang tutor, sehingga menimbulkan kegiatan belajar bagi para warga belajar dan juga warga belajar dapat mencerna bahan pembelajaran yang disampaikan tutor dengan mudah dan baik.
Adapun kriteria yang perlu diperhatikan dalam menetapkan strategi dan metode pembelajaran yaitu :
1.    Pemilihan dan penetapan strategi dan metode harus berorientasi pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai,
2.    Memperhatikan materi yang akan disampaikan kepada warga belajar dengan berbagai karakteristiknya sebagai orang dewasa,
3.    Media belajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran,
4.    Tingkat kemampuan dan kemudahan warga belajar dalam menyerap dan memahami materi pembelajaran,
5.    Memperhatikan efektivitas, efisiensi, daya tarik media, dan iklim / suasana pembelajaran dikelompok belajar.

B.    Jenis – jenis Strategi dan Metode PembelajaranKeaksaraan
1.    Participatory Rural Appraisal (PRA)
PRA merupakan suatu strategi dan metode pengkajian pedesaan secara partisipatif yang memungkinkan masyarakat desa saling berbagi, menambah, dan menganalisis pengetahuan tentang kondisi kehidupannya dalam rangka untuk membuat perencanaan dan tindakan (Chambers ; 1992 ; 5). Metode ini merupakan sarana efektif untuk memberdayakan warga masyarakat melalui pengkajian terhadap masalah – masalah yang muncul di pedesaan.
Prinsip – prinsip yang harus digunakan tutor dalam penerapan PRA adalah
1)    Belajar dari masyarakat, bukan masyarakat yang belajar dari tutor,
2)    Tutor bertindak sebagai fasilitator, dan masyarakat sebagai pelaku kegiatan,
3)    Saling belajar dan saling berbagi pengalaman diantara tutor dan warga belajar dengan prinsip kesamaan, kesetaraan, dan kebersamaan di dalamnya,
4)    Adanya keterlibatan semua kelompok masyarakat, apapun bentuk keterlibatannya,
5)    Santai dan bersifat informal, tidak ada struktur bawahan – atasan atau saling memerintah,
6)    Menghargai perbedaan diantara sesama anggota dalam kelompok mayarakat,
7)    Adanya triangulasi penggunaan variasi dan kombinasi berbagai teknik,
8)    Mengoptimalkan hasil dan selalu belajar dari kesalahan serta berorientasi praktis,
9)    Penggunanaan PRA akan lebih berhasil apabila ada keberlanjutan program dan adanya selang waktu untuk mengkaji ulang permasalahan – permasalahan yang muncul.
2.    Reflect
Reflect merupakan singkatan dari Regenerated Frerian Literacy Through Empowering Community Techniques (Pengembangan kembali teori keaksaraan Paulo Frerian melalui teknik pemberdayaan masyarakat). Metode Reflect memperlihatkan adanya proses penyatuan antara kegiatan keaksaraan dan pemberdayaan masyarakat.
Keuntungan dan manfaat penggunaan metode reflect dalam proses pembelajaran keaksaraaan fungsional yaitu :
1)    Berperan dalam upaya terjadinya proses pemberdayaan (empowering) melalui penyadaran (awareness) serta tindakan (action)untuk melakukan perubahan,
2)    Untuk menggali minat dan kebutuhan warga belajar, mengembangkan pandangan berdasarkan pengalamannya, menciptakan inovasi – inovasi baru dalam proses dan hasil pembelajarannya,
3)    Untuk membelajarkan seseorang dalam belajar menulis dan membaca, memperluas perkembangan kegiatan keaksaraan,
4)    Adanya peningkatan kemampuan warga belajar dalam menganalisis dan memecahkan masalah sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengemukakan ide – ide, dan adanya peningkatan partisipasi,
5)    Menghubungkan langsung dengan kegiatan masyarakat dimana mereka tinggal,
6)    Mengedepankan prinsip – prinssip pembelajaran orang dewasa, pengalaman, dan situasi yang dihadapi warga belajar dalam kehidupan sehari – hari.
3.    Problem Possing (Pemunculan Masalah)
Problem Possing merupakan suatu metode untuk memunculkan masalah baik individu maupun kelompok yang kurang disadari oleh pelakunya.
Ada dua hal yang sangat berkaitan dalam metode problem possing yaitu “Bagaimana memunculkan masalah” dan “Bagaimana membuat pertanyaan kunci”. “Problem possing” adalah suatu cara menggali dan memunculkan masalah yang yang bermanfaat secara detail, untuk mengidentifikasi dan menganalisis pemecahan masalah tersebut. Sedangkan “Pertanyaan kunci”adalah suatu cara menggunakan pertanyaan – pertanyaan penting untuk membuka pintu diskusi.
4.    Language Experience Approach (LEA)
Metode ini merupakan inovasi dalam proses pembelajaran keaksaraan fungsional yang dapat memotivasi warga belajar membuat bahan belajar sesuai dengan materi yang ingin dipelajarinya.
Alasan penggunaan metode ini adalah untuk menghilangkan ketergantungan terhadap buku atau modul yang diterbitkan oleh pusat, dan meminimalisasi anggapan bahwa program baru akan dilaksanakan jika sudah disediakan buku / modulnya. Disamping itu efektivitas kegiatan belajar sangat tergantung pada kemampuan tutor daalam mengarahkaan, membimbing warga belajar di dalam kegiatan belajarnya.
5.    Structure – Analytic – Synthesis (SAS)
Metode SAS menekankan bahwa belajar membaca dan menulis dapat bermanfaat serta menarik minat warga belajar, apabila menggunakan berbagai informasi yang dekat dengan diri mereka. Ketertarikan itu akan bertaambah jika apa yang dipelajarinya memang diperlukan oleh warga belajar dan fungsional bagi kehidupannya. Dalam pelaksanaan pembelajaran, metode SAS akan sangat tepat jika diterapkan pada pembelajaran membaca dan menulis.
6.    Kata Kunci (Key Words)
Dalam proses pembelajarannya, digunakan pula tema – tema penggerak dan kata – kata kunci yang diangkat dari kehidupan masyarakat dan mengandung makna langsung bagi kehidupan warga belajar. Kata – kata kunci tersebut, dipilih dari berbagai alternatif kata yang diajukan oleh para warga belajar, kemudian kata – kata yang dipilih digunakan untuk memancing pikiran kritis warga belajar, sejak awal kegiatan sampai dengan akhir kegiatan pembelajaran.
Keunggulan metode “key words” adalah
1)    Metode ini didasarkan pada penggunaan topik – topik yang bermakna bagi kehidupan masyarakat,
2)    Warga belajar diberi kesempatan untuk memberi masukan terhadap proses dan materi belajar,
3)    Dimungkinkan adanya variasi kegiatan, bukan sekedar belajar membaca dan menulis,
4)    Warga belajar dapat melihat dan merefleksikan, serta mendiskusikan berbagai masalah kehidupan yang mereka alami.
Sedangkan kelemahan metode ini adalah perlunya kehadiran tutor yang mampu menggerakkan diskusi, bersikap terbuka dan mau bersikap tidak menggurui.
7.    Suku Kata
Metode ini sangat efektif untuk membantu warga belajar buta aksara murni. Konsep utama metode ini adalah mempelajari suku kata yang berasal dari kata – kata tertentu yaang sering dihafalkan dan memiliki makna yang jelas, dengan prinsip mengulangi, menghafal dan melatih tentang semua huruf baik konsonan maupun vokal yang membentuk suku kata tersebut.
8.    Poster Abjad
Metode ini sangat efektif untuk membantu warga belajar buta aksara murni. Konsep utama dalam metode ini tidak sekedar mempelajari abjad dari a – z, tetapi dengan menggunaakan benda – benda nyata yang ditempelkansesuai huruf pertama nama benda tersebut.
9.    Transliterasi
Metode ini sangat efektif untuk membantu warga belajar buta aksara “latin”tetapi mereka sudah memiliki kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dengan menggunakan huruf “arab”. Konsep utama metode ini adalah menyamakan ucapan bunyi huruf / aksara arab dengan aksara latin.
Sebagai catatan penggunaan metode ini bahwa : 1) Metode ini biasanya digunakan pada komunitas muslim tradisional atau di lingkungan pondok pesantren,2) Metode ini hanya efektif digunakan dalam proses pembelajaran KF, apabila warga belajarnya sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan membaca Al-Quran paling tidak sudah mengenal huruf “Hija’iyah.

C.    Aplikasi dalam Pembelajaran
1)    Strategi dan Metode Pembelajaran Menulis
Langkah – langkah kegiatan menulis untuk warga belajar pemula meliputi empat tahap berikut :
a)    Menulis di udara
Mengingat warga belajar pemula jarang memiliki kesempatan memegang alat – alat tulis, maka mereka perlu dibelajarkan bagaimana menggunakan alat – alat tulis tersebut. Tutor meminta WB untuk menulis di udara, untuk melemaskan dan lebih memperkenalkan fungsi – fungsi alat – alat tulis sebagai mediamenuangkan ide/gagasan.
b)    Menulis tentang apa saja
Setelah warga belajar familier mengenal alat – alat tulis dan fungsinya, tutor meminta warga belajar menulis tentang apa saja yang menjadi kesukaannya. Hal ini bertujuan untuk merangsang WB, bahwa apa yang dipikirkan hanya dapat dikomunikasikan melalui lambang – lambang tertentu.
c)    Menulis konkrit
WB diminta menulis kata – kata nyata, dengan cara menyalin, meniru tulisan orang lain seperti nama diri, anggota keluarga, dsb. Pengalaman menunjukkan, warga belajar akan lebih cepat belajar menulis apabila mereka diminta menulis kata – kata sederhana dan bermakna.
d)    Menulis kata/kalimat/pesan pendek
Inti menulis adalah mengkomunikasikan ide/gagasan kepada orang lain. Oleh karena itu mereka diminta dan dilatih untuk menulis kata- kata/kalimat/pesan pendek yang bisa dimengerti orang lain.

2)    Strategi dan Metode Pembelajaran Membaca
Prinsip-prinsip dan langkah-langkah dalam membelajarkan warga belajar membaca yaitu:
a)    Cari materi-materi/informasi praktis atau sederhana yang sesuai dengan minat, kebutuhan, dan masalah yang dihadapi WB
b)    Tutor menyalin informasi diatas kedalam papan tulis
c)    Meminta WB untuk menyalin informasi tersebut ke buku catatan masing-masing
d)    Tutor membaca bahan bacaan tersebut dan WB menirukan secara bersama-sama dengan melihat ke papan tulis
e)    Meminta WB yang sudah sedikit mampu membaca untuk kedepan dan membaca bahan bacaan tersebut, sementara yang lainnya mengikuti.
f)    Latih mereka berulang – ulang
g)    Meminta WB membaca secara bersamaan dengan melihathasil tulisannya masing – masing
h)    Latih mereka membaca hasil tulisan masing – masing secara bergantian
i)    Jangan terlalu khawatir jika WB tidak dapat membaca dengan sempurna
j)    Bantulah WB agar percaya diri dan merasa senang bahwa mereka dapat membaca dan beri semangat pada WB untuk membantu yang lainnya.
3)    Strategi dan Metode Pembelajaran Berhitung
Berdasarkan pengalaman, untuk pembelajaran berhitung biasanya warga belajar sudah memiliki kemampuan dalam berhitung nilai nominal uang, jumlah ternak yang dimiliki, anak dan sebagainya.
Untuk bisa membelajarkan warga belajar berhitung, tutor perlu mengamati aktivitas berhitung masyarakat, selain itu tutor perlu mengamati cara belajar ketrampilan berhitung yang digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari – hari.
Prinsip – prinsip yang harus diingat oleh tutor ketika membelajarkan warga belajar berhitung adalah :
a)    WB biasanya sudah mempunyai ketrampilan berhitung yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari – hari seperti : jumlah anak, jumlah ternak, dsb.
b)    Ajarkan ketrampilan berhitung yang dibutuhkan WB, misal berbandingan :
Ukuran modern  Tradisional
Meter           Batas hektar
Liter           Kilogram
c)    Gunakan dan manfaatkan alat – alat yang berasal dari kehidupan WB dalam kehidupan sehari – hari
d)    Ajarkan ketrampilan berhitung bersama-sam dengan kegiatan fungsional
e)    Gunakan selalu alat-alat yang dapat dikerjakan sendiri oleh WB seperti : Lidi, batu, telur, daun, dsb
f)    Untuk meningkatkan kemampuan berhitung warga belajar program KF, tutor perlu :
•    Mengetahui kebutuhan berhitung warga belajar
•    Melaksanakan survey matematika sesuai dengan kebutuhan belajar WB
•    Mengumpulkan dan menggunakan alat lokal sebagai alat bantu berhitung
•    Menerapkan keguanaan berhitung dalam kehidupan sehari – hari WB.


















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar